Jumat, 06 Desember 2013

Sejarah dan Simplisia Tanaman Obat

Sejarah Tanaman Obat

Penggunaan tanaman sebagai obat-obatan telah berlangsung sejak ribuan tahun yang lalu. Para ahli kesehatan bangsa Mesir Kuno pada 2500 tahun sebelum masehi telah menggunakan tanaman obat sebagai bahan-bahan untuk mengatasi penyakit yang sedang mereka alami saat itu. Besarnya resep penggunaan produk tanaman untuk pengobatan berbagai penyakit, gejala-gejala penyakit, dan diagnosisnya tercantum dalam Papyrus Ehers.
Bangsa yunani kuno juga banyak menyimpan catatan mengenai penggunaan tanaman obat, seperti Hyppocrates (466 tahun sebelum masehi), Theophrastus (372 tahun sebelum masehi) dan Pedanios Dioscorides (100 tahun sebelum masehi) yang membuat himpunan keterangan terinci mengenai ribuan tanaman obat dalam De Materia Medica.
Di Indonesia, pemanfaatan tanaman sebagai obat-obatan juga telah berlangsung sejak ribuan tahun yang lalu. Tetapi, penggunaannya belum terdokumentasi dengan baik. Pada pertengahan abad XVII, seorang botanikus bernama Jacobus Rontius (1592-1631) mengumumkan khasiat tumbuh-tumbuhan dalam bukunya De Indiae Untriusquere Naturali et Medica. Meskipun hanya 60 jenis tumbuh-tumbuhan yang diteliti , tetapi buku ini merupakan dasar dari penelitian tumbuh-tumbuhan obat oleh N.A Van Rheede tot Draakestein (1637-1691) dalam bukunya Hortus Indicus Malabaricus.
Pada tahun 1888, di Bogor didirikan Chemis Pharmacologisch Laboratorium sebagai bagian dari Kebun Raya Bogor dengan tujuan menyelidiki bahan atau zat-zat yang terdapat dalam tumbuhan yang dapat digunakan untuk obat-obatan. Selanjutnya, penelitian dan publikasi mengenai khasiat tanaman obat-obatan semakin berkembang.

Simplisia Tanaman Obat

Gunawan dan Mulyani (Penebar Swadaya, 2004) menjelaskan bahwa simplisia merupakan istilah yang digunakan untuk menyebut bahan-bahan obat alam yang masih dalam wujud aslinya atau belum mengalami perubahan bentuk. Sementara, menurut Departemen Kesehatan RI, simplisia adalah bahan alami yang digunakan untuk obat dan belum mengalami perubahan proses apapun, kecuali dinyatakan lain (umumnya berupa bahan yang telah dikeringkan).
Simplisia dapat dibagi menjadi 3 golongan, yaitu simplisia nabati, simplisia hewani, dan simplisia pelican atau mineral.

1. Simplisia Nabati

Simplisia nabati adalah simplisia yang dapat berupa tanaman utuh, bagian tanaman, eksudat tanaman, atau gabungan antara ketiganya, misalnya Datura folium dan Piperis nigri Fructus. Sedangkan, eksudat tanaman adalah isi sel yang secara spontan keluar dari tanaman atau dengan cara tertentu sengaja dikeluarkan dari selnya. Eksudat tanaman dapat berupa zat-zat anda bahan-bahan nabati lainnya, yang dengan cara tertentu dipisahkan/diisolasi dari tanamannya.

2. Simplisia Hewani

Simplisia hewani adalah simplisia yang dapat berupa hewan utuh atau zat-zat berguna, yang dihasilkan oleh hewan dan belum berupa bahan kimia murni, misalnya minyak ikan (Oleum iecoris Aselli) dan madu (Mel depuratum).

3. Simplisia Pelikan atau Mineral

Simplesia pelikan atau mineral adalah simplisia berupa bahan pelikan atau mineral yang belum diolah anda telah diolah dengan cara sederhana, namun belum berubah menjadi bahan kimia murni, contoh serbuk seng dan serbuk tembaga.

Pemberian Nama Simplisia

Berdasarkan penggolongan simplisia, dapat disimpulkan bahwa simplisia tanaman obat termasuk dalam golongan simplisia nabati. Secara umum, pemberian nama atau penyebutan simplisia didasarkan atas gabungan nama spesies diikuti dengan nama bagian tanaman.
Contoh : merica dengan nama spesies Piperis albi, maka nama simplisianya disebut Piperis albi Fructus. Fructus menunjukkan bagian tanaman yang artinya buah.
Untuk lebih lengkapnya, perhatikan tabel pemberian nama atau penyebutan simplisia
Tabel nama latin dari bagian tanaman yang digunakan dalam tata nama
Nama Latin
Bagian Tanamn
Radix
Akar
Rhizome
Rimpang
Tubera
Umbi
Flos
Bunga
Fructus
Buah
Semen
Biji
Lignum
Kayu
Cortex
Kulit Kayu
Caulis
Batang
Folia
Daun
Herba
Seluruh Tanaman


Kamis, 05 Desember 2013

Keunggulan dan Kelemahan Obat Bahan Alam

Penyebaran informasi mengenai hasil penelitan dan uji yang telah dilakukan terhadap obat bahan alam harus menjadi perhatian bagi semua pihak, sebab menyangkut faktor keamanan penggunaan obat tersebut. Beberapa hal yang perlu diketahui sebelum menggunakan obat bahan alam adalah keunggulan dan kelemahan obat tradisional dan tanaman obat. 

Keunggulan Obat Bahan Alam

Berikut beberapa keunggulan obat dengan bahan alam : 
1. Efek samping obat tradisional relatif lebih kecil bila digunakan secara benar dan tepat, baik tepat takaran, waktu penggunaan, cara penggunaan, ketepatan pemilihan bahan dan ketepatan pemilihan obat tradisional atau ramuan tanaman obat untuk indikasi tertentu. 
2. Adanya efek komplementer dan atau sinergisme dalam ramuan obat/komponen bioktif tanaman obat. Umumnya, suatu ramuan obat tradisional terdiri dari beberapa jenis tanaman obat yang memiliki efek saling mendukung satu sama lain untuk mencapai efektivitas pengobatan. Formulasi dan komposisi ramuan tersebut dibuat setepat mungkin agar tidak menimbulkan efek kontradiksi, bahkan harus dipilih jenis ramuan yang saling menunjang terhadap suatu efek yang dikehendaki. 
3. Pada satu tanaman bisa memiliki lebih dari satu efek farmakologi. Zak aktif pada tanaman obat, umumnya dalam bentuk metabolit sekunder. Sedangkan, satu tanaman bisa menghasilkan beberapa metabolit sekunder, sehingga memungkinkan tanaman tersebut memiliki lebih dari satu efek farmakologi. 
4. Obat tradisional lebih sesuai untuk penyakit-penyakit metabolic dan degenerative. Perubahan pola konsumsi mengakibatkan gangguan metabolisme dan faal tubuh sejalan dengan proses degenerasi. Yang termasuk penyakit metabolik antara lain diabetes (kencing manis), hiperlipidemia (kolesterol tinggi), asam urat, batu ginjal, dan hepatitis. Sedangkan yang termasuk penyakit degenerative antara lain rematik (radang persendian), asma (sesak napas), ulser (tukak lambung), hemorrhoid (wasir) dan pikun (lost of memory). Untuk mengobat penyakit penyakit tersebut diperlukan waktu lama, sehingga penggunaan obat alam lebih tepat karena efek sampingnya relatif lebih kecil. 

Kelemahan Obat Bahan Alam

Disamping keunggulannya, obat bahan alam juga memiliki beberapa kelemahan yang juga merupakan kendala dalam pengembangan obat tradisional, antara lain : 
a. Efek farmakologisnya lemah. 
b. Bahan baku belum terstandar dan bersifat higroskopis serta volumines. 
c. Belum dilakukan uji klinik. 
d. Mudah tercemar berbagai mikroorganisme. 

Upaya-upaya pengembangan obat tradisional bisa ditempuh dengan berbagai cara dan pendekatan-pendekatan tertentu, sehingga ditemukan suatu bentuk obat tradisional yang telah teruji khasiatnya, keamanannya bisa dipertanggungjawabkan secara ilmiah, serta memenuhi indikasi medis. Misalnya untuk mendapatkan produk fitofarmaka, suatu tanaman harus melalui beberapa tahap pengujian seperti uji farmakologi, toksitas dan uji klinik hingga akhirnya bisa menjawab dan mengatasi suatu penyakit.

Rabu, 04 Desember 2013

Apa Itu Tanaman Obat Keluarga (TOGA)

Pernahkah anda mendengar sebuah kata yaitu TOGA ? Di dalam dunia pendidikan istilah toga ini sudah tidak asing lagi ditelinga. Toga adalah merupakan seperangkat baju/jubah yang dipakai oleh wisudawan maupun wisudawati saat mereka dilantik saat acara wisuda yang menyatakan mereka telah lulus sebagai seorang sarjana. Tentunya anda yang pernah lulus menyelesaikan pendidikan di perguruan tinggi pasti pernah menggunakan TOGA saat acara wisuda anda bukan ? Baju toga yang dikenakan saat wisuda warnanya hitam khan ? 

Namun yang saya maksud TOGA disini adalah toga yang merupakan singkatan dari tanaman obat keluarga. Tanaman obat keluarga merupakan beberapa jenis tanaman obat pilihan yang ditanam di pekarangan rumah atau lingkungan sekitar rumah. Tanaman obat yang dipilih, biasanya tanaman obat yang bisa dipakai untuk pertolongan pertama atau obat-obat penyakit ringan seperti demam dan batuk. Tanaman obat yang sering ditanam di pekarangan rumah tersebut, antara lain sirih, kunyit, temulawak, kembang sepatu, sambiloto dan lain-lain. 

Tanaman obat keluarga selain dipakai sebagai obat juga memiliki beberapa manfaat lain, yaitu : 
1. Dapat dimanfaatkan sebagai penambah gizi keluarga, misalnya papaya, mentimum, bayam dan sebagainya. 
2. Dapat dimanfaatkan sebagai bumbu atau rempah-rempah masakan, misalnya kunyit, kencur, jahe, serai, daun salam dan sebagainya. 
3. Dapat menambah keindahan (estetika), karena ditanam di pekarangan rumah, misalnya mawar, melati, bunga matahari, kembang sepatu, tapak dara, kumis kucing dan sebagainya. 

Tanaman obat-obatan bisa ditanam dalam pot-pot atau lahan sekitar rumah. Apabila lahan yang dapat ditanami cukup luas, maka sebagian hasil panennya bisa dijual sehingga bisa menambah lagi penghasilan keluarga. 

Semoga dengan tulisan diatas mengenai istilah kata toga yang merupakan singkatan dari tanaman obat keluarga bisa memberikan tambahan wawasan sebagai pengetahuan baru bagi para pembaca yang baru mengenal istilah tersebut, sehingga di lain waktu apabila ada orang yang berbicara yang topik pembicaraannya terkait dengan istilah tersebut, maka anda bisa tahu dan mengerti maksud dari pembicaraan tersebut … Amin.

Pengelompokan Tanaman Obat

Pemanfaatan tumbuhan sebagai obat sudah dilakukan dari dulu. Kemampuan meracik tumbuhan berkhasiat obat dan jamu, merupakan warisan turun temurun yang diturunkan dari generasi ke generasi berikutnya serta mengakar kuat di masyarakat. Tumbuhan yang merupakan bahan baku obat tradisional tersebut tersebar hampir diseluruh wilayah Indonesia. Di hutan tropis Indonesia, terdapat 30.000 spesies tumbuhan. Dari jumlah tersebut, sekitar 9.600 spesies diketahui berkhasiat obat, tetapi baru 200 spesies saja yang telah dimanfaatkan sebagai bahan baku pada industri obat tradisional. Peluang pengembangan budidaya tanaman obat-obatan masih sangat terbuka luas, sejalan dengan semakin berkembangnya industri jamu, obat herbal, fitofarmaka dan kosmetika tradisional.

Pengelompokan Tanaman Obat.


Tanaman obat didefinisikan sebagai suatu jenis tanaman yang sebagian, seluruh tanaman dan atau eksudat tanaman tersebut digunakan sebagai obat, bahan, atau ramuan obat-obatan.

1. Menurut Para Ahli

Ahli lain mengelompokkan tanaman berkhasiat obat menjadi tiga kelompok, yaitu
a. Tanaman Obat Tradisional, yaitu spesies tumbuhan yang diketahui atau dipercayai masyarakat memiliki khasiat obat dan telah digunakan sebagai bahan baku obat tradisional.
b. Tanaman obat modern, yaitu spesies tumbuhan yang secara ilmiah telah dibuktikan mengandung senyawa atau bahan bioaktif yang berkhasiat obat dan penggunaannya dapat dipertanggungjawabkan secara medis.
c. Tanaman obat potensial, yaitu spesies tumbuhan yang diduga mengandung atau memiliki senyawa atau bahan biokatif berkhasiat obat, tetapi belum dibuktikan penggunaannya secara ilmiah (medis) sebagai bahan obat.

2. Menurut Departemen Kesehatan RI

Departemen Kesehatan RI mendefinisikan tanaman obat Indonesia, seperti yang tercantum dalam SK Menkes No.149/SK/Menkes/IV/1978, yaitu
a. Tanaman obat adalah tanaman atau bagian tanaman yang digunakan sebagai bahan obat tradisional atau jamu.
b. Tanaman obat adalah tanaman atau bagian tanaman yang digunakan sebagai bahan pemula bahan baku obat (precursor).
c. Tanaman obat adalah tanaman atau bagian tanaman yang diekstraksi dan ekstrak tanaman tersebut digunakan sebagai obat.

Perkembangan Tanaman Obat di Indonesia

Sejalan dengan perkembangan industri jamu, obat herbal, fitofarmaka dan kosmetika tradisional, budidaya tanaman obat di Indonesia juga mengalami perkembangan yang signifikan. Selama ini, upaya penyediaan bahan baku untuk industri obat tradisional sebagian besar berasal dari tanaman yang tumbuh liar di alam atau dibudidayakan dalam skala kecil di lingkungan sekitar rumah dengan kuantitas dan kualitas yang kurang memadai. Oleh karena itu, perlu dikembangkan aspek budidaya yang sesuai dengan standar bahan baku obat tradisional.

Penggunaan bahan alam sebagai obat memang cenderung mengalami peningkatan dengan adanya isu back to nature dan krisis berkepanjangan yang mengakibatkan turunnya daya beli masyarakat terhadap obat-obat modern yang relatif lebih mahal harganya. Obat bahan alam juga dianggap hampir tidak memiliki efek samping yang membahayakan. Pendapat-pendapat seperti itu belum tentu benar, karena itu mengetahui manfaat dan efek samping obat tersebut secara pasti, masih perlu dilakukan penelitian dan uji praklinis serta uji klinis.

Obat bahan alam Indonesia dapat dikelompokkan menjadi tiga, yaitu
  • Jamu yang merupakan ramuan tradisional, namun belum teruji secara klinis.
  • Obat Herbal yaitu obat bahan alam yang sudah melewati tahap uji praklinis
  • Fitofarmaka yaitu obat bahan alam yang sudah melewati uji praklinis dan klinis (SK Kepala BPOM No. HK.00.05.4.2411 tanggal 17 Mei 2004).